Tuesday, May 17, 2011

Toilet dan Matematika

     Ini adalah sebuah cerpen pertamaku yang berhasil rampung. Cerpen ini mungkin nggak bakalan jadi kalo aku nggak niat menambah nilai bahsa Indonesiaku yang nggak bagus banget. dan ini juga kesempatan terakhirku mencoba di semester 4 ini untuk belajar menulis dan bercerita    Dan inilah ceritaku, semoga berkenan di hati...


 
Toilet dan Matematika
“Teng…..,teng…..,teng…..,teng….”. Lonceng berbunyi empat kali sebagai petunjuk bahwa waktu telah menunjukkan pukul empat dini hari. Aku membuka mata, rasanya seperti baru saja Aku tertidur. Padahal aku sudah tertidur kira-kira sekitar pukul 11.45 malam. Tiga detik kemudian alarm mengaum  nyaring lewat pengeras suara yang ada di pengasuhan. Aku menyiapkan jantung dan telinga karena gedoran keras dari ibu pengasuh di pintu-pintu kamar sudah terdengar dari arah koridor bawah.  Berisik sekali. Sepuluh menit kemudian giliran kamarku yang akan di gedor-gedor  oleh ibu pengasuh. 
“ Rima, Tami, Ayu, Arin, bangun…!!” terdengar suara Bu Eti memanggil manggil nama kami berempat. Aku dengan enggan duduk  di tempat tidur. Sementara  Tami bangkit dan membuka pintu. “Sudah bangun semua? Ayo mandi, terus apel dan ke masjid! “kata Bu Eti. Melihat  aku, arin, dan ayu sudah duduk di tempat masing-masing, Bu Eti beralih nenggedor kamar sebelah. Kami berempat serentak mengambil posisi tidur lagi. Itulah kebiasaan kami setiap subuh hingga lonceng kembali berbunyi pukul 05.30 untuk apael sholat subuh. Aku masih malas untuk bangun, tapi mau tak mau aku bangkit dan pergi ke kamar mandi. Lalu bersiap-siap untuk ke masjid.
*****
Pagi ini mentari bersinar cerah.  Ku awali hari ini dengan penuh semangat dan berharap  semoga hari ini akan menyenangkan dan lebih baik dari kemarin. Aku berangkat ke sekolah  ketika jarum jam tanganku menunjukkan pukul 07.05. Aku teringat catatan untuk pelajaran Bahasa Jepang yang diberikan minggu lalu tercecer entah dimana. Aku  teringat Lhara yang kadang paling rajin mencatat dan tulisannya enak dibaca, aku ingin meminjam catatan Bahasa Jepangnya. Aku segera menghampiri Lhara yang sedang duduk-duduk di koridor plus bersama Yola, Kiki, Kikin dan Ame. Sedangkan teman serombelku yang lainnya mengisi anak-anak tangga di sebelah ruang OSIS. 
    
“Lhara, kamu ada mencatat kosa kata minggu lalu nggak? Kertas Jepangku yang minggu lalu hilang, Ra” kataku
“Ada sih, Rim. Tapi sedikit aja, Cuma yang ini.” Kata Lhara sambil menunjukkan salah satu halaman di bindernya.
“ya, nggak apa-apa, emang ini aja yang mau ku salain. Pinjam ya, Ra” kataku. Ku sambut bindernya. Dan ku buka buku catatanku.
“Iya, salin aja Rim.” Kata Lhara
“Rim, liat juga… bareng….” Kata Yola yang dari tadi duduk diam di sebelahku.
“Ayo, sini sama-sama” kataku pada Yola.
Baru sejenak kami selesai menyalin catatan, bel berbunyi. Mr. Cheer, guru bahasa Indonesia kami, sudah tampak batang hidungnya. Beliau datang dari arah kantor  dengan  wajah riang untuk mengajar kami dan tidak ketinggalan semangatnya yang membara.
“Bapak, kepagian,pak…” sambut Lhara.
“Kepagian dari mana? Ini sudah bel, ayo, semangat anak-anak.” Ucap beliau.
Teman-temanku yang duduk di tangga merespon sambutan Lhara tadi dengan dukungan. Berbagai macam celotah dan komentar meluncur saja dari bibir teman-temanku. Aku masih sibuk membereskan buku catatanku.
Mr. Cheer cuek saja, tak tersinggung dengan sambutan kami tadi. Beliau lalu terlibat percakapan dengan anak rombel 2 yang tadi lewat di depanku dan menyapa beliau. Sesaat kemudian beliau beranjak dari tempatnya berdiri. Kami segera menyusul beliau menuju ruang 16 yang terletak di lantai 2. Di sanalah kami belajar bahasa Indonesia. Ku coba mempertahankan semangatku, mengingat kemarin baru saja IB karena di kalender tertera tanggal merah. Di tambah lagi kemarin lusa pemerintah menyatakan bahwa hari tersebut adalah hari cuti bersama. Wow, senangnya kami, karena sebagai siswa, libur adalah anugerah yang indah dan tak bisa ditolak. Apalagi bagiku,liburan adalah saat yang tepat menyegarkan otak dan hati dari perasaan jenuh dengan segala rutinitas sekolah dan asrama.
Pertemuan pagi ini hanya diisi dengan diskusi ringan. Di selingi dengan canda dan sedikit pesan-pesan motivasi dari Mr. Cheer. Juga referensi film yang layak kami tonton. Di tengah jam pelajaran, Kikin mencolekku dan bertanya maukah aku menemaninya ke toilet. Kebelet dari tadi katanya. Aku mengangguk setuju dan kembali memperhatikan ke layar. Hingga jam pelajaran bahasa Indonesia pun usai.
Begitu kami menghambur keluar kelas, kikin segera menghampiriku, menagih janjiku tadi dikelas bahasa. Sampai di depan ruang matematika 3, kami duduk dulu menunggu kedatangan Mr. Match. Takut terlambat. Tapi sudah 10 menit berlalu, Mr. Match yang biasanya tepat waktu, tak kunjung datang. Aku mengajak kikin ke toilet, karena katanya sudah kebelet dari tadi. Aku menitipkan tasku pada Uji, begitu pula Kikin.
“Uji, titip tas ya….., kataku pada uji. “aku mau menemani Kikin dulu.”
“kemana?” Tanya uji.
“mau pipis nih….” Ujar kikin.
Uji mengangguk. Lalu kami berdua bergegas munuju toilet di sebelah ruang OSIS. Begitu kami tiba di depan pintu toilet putri yang tertutup, kikin dengan tak sabar mendorongnya. Namun ternyata pintu tersebut tertahan dari dalam. Lalu dari dalam terdengar suara gaduh.
“siapa di dalam? ” Ujar Kikin. sebuah kepala muncul dari balik pintu. Ternyata si Gina, kelas X-A, yang muncul.
“maaf, ka. Lagi ganti baju” ujarnya.
“masih lama kah, dek?” tanyaku.
“masih lama,ka” terdengar suara lain dari dalam. Gina hanya cengar-cengir.
“Ayo, kin, yang di belakang perpus aja yok! Adeknya masih lama kin….” Ujarku.
“Ayo, dah. Aduh…, aku kebelet nih dari tadi pagi.…” sahut Kikin. dengan langkah lebar, kami  bergegas ke belakang perpustakaan. 
Setibanya di tempat tujuan, ternyata toilet tersebut juga penuh dengan siswi kelas X yang sedang ganti baju untuk pelajaran olahraga. Kikin yang sudah mulai emosi,menggedor pintu toilet.
“Siapa di dalam?? Masih lamakah???” ujar Kikin
“Siapa?” sahut yang didalam.
“Rizkin sama Rima” jawabku.
“maaf,ka. Kami lagi ganti baju” jawab yang didalam.
            Ternyata semua toilet di sekolah penuh di pakai kelas X yang ganti baju untuk pelajaran olahraga. Pilihan terakhir adalah toilet di warkit. Agak jauh, namun toiletnya sangat bersih. Apalagi, Kikin sudah mulai emosi.
            “Kin,kita ke warkit aja. Kelamaan nunggu kelas satu ganti baju.” kataku
            “iya deh…” ujar kikin pasrah.
            Tanpa basa-basi, kami bergegas menuju warkit (kependekan dari Warung Kita,nama kantin di sekolahku). Tak peduli lagi kalau kami sepertinya sudah terlambat masuk kelas Mr. Match. Beruntung, begitu kami tiba di warkit, satu-satunya toilet yang ada sedang kosong. Langsung saja kikin masuk setelah izin dengan ibu pengurus warkit.
            Setelah kikin selesai dengan urusannya, kami berjalan dengan santai. Kami berpapasan dengan kelas satu putri yang sudah mengenakan pakaian olahraga. Mereka sedanng menuju ke arah lapangan futsal. Sepertinya mereka tadi yang memenuhi semua toilet sekolah dan mereka juga baru selesai mengganti baju. Dari depan pendopo, sudah koridor terlihat benar-benar kosong. Pasti pelajaran Matematika sudah di mulai. Aku dan kikin sudah tidak peduli, karena kami punya alasan jelas mengapa terlambat.
            Kami berpapasan dengan Yoga dan Ekwan di depan ruang OSIS. Di depan kelas, tas ku dan tas kikin tergeletak begitu saja. Kami raih tas kami masing-masing. Di dalam kelas, Mr. Match sedang membagikan soal. Aku dan kikin, langsung masuk ke kelas tersebut. Hanya tersisa bangku di deretan paling belakang yang kosong. Aku pun mengambil tempat di depan Uji sedangkan kikin di depan Untari.
            “Rim, ulangan….” Bisik Uji.
            “ha,iya kah?” tanyaku.
            “ini, soalnya…., kerjakan di buku tugas. Kamu minta soalnya sama bapaknya . ” Ujar Uji pelan. Sementara Mr. Match masih membagi soal di ujung kanan belakang kelas.
            Kikin yang sejak tadi berdiri di dekatnya untuk meminta tidak di gubris. Hingga beliau kembali ke tempatnya. Aku pun maju menghampirinya.
            “bapak, saya belum dapat soal.” Ujar ku. Kikin juga ikut maju ke depan.
            “soalnya habis, silakan keluar.” Kata beliau. Kami jadi bingung.
            “tapi pak, itu masih ada.” Timpal kikin
            “ soalnya pas,untuk Yoga dan Ekwan yang tadi keluar mengambil buku tugas.” Jawab beliau datar. Aneh, jumlah siswa di kelasku 26 orang. Untuk mengapa beliau tidak cukup menggandakannya.
            “Bapak, boleh saya fotocopy sebentar?” tanyaku.
            “iya, pak.. kami fotocopy sendiri” tambah Kikin
            “ Tidak bisa, silahkan anda keluar.” Kata beliau. Aku mulai tidak mengerti apa yang beliau pikirkan.
            “ Tapi,pak. Kami tadi dari kamar kecil, pak..” ujar Kikin.
            “Iya, silahkan keluar.” Beliau tetap pada keputuusannya dengan ekspresi yang datar.
            Aku kembali ke tempat dudukku. Ku raih tasku, dan ku tatap kikin. Ia terlihat sedikit kacau. Aku mengerti apa yang dirasakan Kikin, Ia pasti tidak terima kalau nilainya kosong. Aku tidak mau memikirkan hal itu. Bagiku, di keluarkan dari kelas hari ini, bukan masalah. Walau saat ini sedang ulangan dan berarti aku sudah dipastikan mendapat nilai nol.
Entah sejak kapan, aku berpikir nilai itu bukan segalanya. Jika aku gagal di semester ini, dunia tak akan berakhir begitu saja. Lagi pula kurasa aku sudah gagal menerima Mr. Match dan pelajarannya sejak awal. Memang, aku butuh nilai di atas standar kelulusan untuk lulus dari sini dan melanjutkan langkahku untuk menggapai cita-citaku. Tapi saat ini, aku hanya bisa pasrah. Ku pikir, dengan di keluarkan dari kelas, aku bisa membebaskan pikiranku. Membebaskan perasaan kecewa karena belum berhasil kali ini.  Lagi pula aku tidak perlu pusing-pusing mencari dan menghitung jawaban soal-soal matematika itu.
Berbeda denganku, kikin tetap bersikeras untuk ikut ujian ini. Ia mengikutiku keluar kelas. Namun, tanpa membawa tasnya. Ia dengan nekat membawa lembar soal yang ia pinjam dari Untari.den mengajakku ke TU untuk menggandakan soal itu.
“Rim, ini ada soalnya. Kamu mau nggak? ? ayo kita fotocopy!” bisik kikin seraya menghampiriku.
“aku mau soalnya. Tapi aku nggak mau masuk kelas lagi. Kita sudah diusir kin….” Kataku.
“aku sih terserah aja. Aku pokoknya mau ngerjakan.”balas kikin
“kita kerjakan diperpus aja kin…,”kataku.
“aku terserah aja, pokoknya ku nggak mau ketinggalan, biar nilaiku jelek.”ucap kikin, dengan nada kesal campur kecewa.
“aah, ya sudah, fotocopy dulu aja!” aku tidak tau harus berkata apa pada kikin, aku nggak mau dia menangis hanya karena ini.
Sesampainya di TU, kami melihat setumpuk soal metematika yang sama. Kami berpikir, Mr. Match memang sedikt keterlaluan. Melihat setumpuk lembar metematika itu, membuatku kesal dan sakit hati. Hanya karena kami terlambat 1 menit, beliau mengusir kami. Dan bahkan yang tidak bisa kami terima adalah, beliau tidak mau tahu mengapa kami terlambat. Padahal kami terlambat karena pergi ke toilet. Sangat tidak adil bagiku karena ke toilet dan hal yang wajar mengingat ciri-ciri makhluk hidup adalah mengeluarkan sisa metabolisme. Kami berdua benar-benar kesal.
Setelah petugas di TU sselesai menggandakan soal untuk kami, kami kembali ke kelas untuk mengambil tas kikin yang masih di kelas. Begitu kami tiba di depan ruang OSIS, Mr. Match yang keluar dari kelas langsung menghampiri kami dan mengambil lembar soal tadi.
“Sini soalnya” kata beliau.
“tapi pak,” ujar kikin.
“sini!” kata beliau lagi
Kami dengan pasrah menyerahkannya. Beliau berlalu begitu saja menuju kantor. Dan masalahnya sekarang adalah kertas milik Untari juga di ambil beliau. Aku melihat kikin yang semakin mendung wajahnya. Ia sangat mencemaskan untari. Bagaimana untari bisa mengerjakan ulangannya jika Mr. Match kembali ke kelas nanti. Aku mengiringi kikin ke kelas dan mengambil tasnya.  Untari hanya tersenyum, dia baik-baik saja katanya. Aku tau untari tidak mudah jatuh mentalnya menghadapi hal seperti ini. Aku dan Kikin memilih menunggu jam istirahat di perpus. Aku hanya bisa bilang jangan memikirkan hal itu pada kikin. Kikin masih merasa tidak enak hati pada Untari. Kali ini hanya diam dan tetap berada di sisi kikin. Aku tidak memikirkan hal tadi, dan aku juga tidak merasakan sakit yang dirasakannya. Tapi aku juga merasakan rasanya ditolak dan diusir tadi. Tak ada kata-kata yang dapat menghapus sedih dan kecewa Kikin kali ini. Ku biarkan ia mencari ketenangannya sendiri dalam diam dengan aku tetap disisinya. Dan semangatku yang tadi pagi ku sulut, kini kembali redup.




Sunday, May 15, 2011

What The Hell

-Avril Lavigne-

You say that I'm messing with your head
All cause I was making out with your friend
Love hurts whether it's right or wrong
I can't stop cause I'm having too much fun

You're on your knees
Begging please
Stay with me
But honestly
I just need to be a little crazy

All my life I've been good,
But now
I'm thinking What The Hell
All I want is to mess around
And I don't really care about
If you love me
If you hate me
You can save me
Baby, baby
All my life I've been good
But now
Whoaaa...
What The Hell

So what if I go out on a million dates
You never call or listen to me anyway
I'd rather rage than sit around and wait all day
Don't get me wrong
I just need some time to play

You're on your knees
Begging please
Stay with me
But honestly
I just need to be a little crazy

All my life I've been good,
But now
I'm thinking What The Hell
All I want is to mess around

And I don't really care about
If you love me
If you hate me
You can save me
Baby, baby
All my life I've been good
But now
Whoaaa...
What The Hell

Lalalala la la
Whoa Whoa
Lalalala la la
Whoa Whoa

You say that I'm messing with your head
Boy, I like messing in your bed
Yeah, I am messing with your head when
I'm messing with you in bed

All my life I've been good,
But now
I'm thinking What The Hell
All I want is to mess around
And I don't really care about
All my life I've been good,
But now
I'm thinking What The Hell
All I want is to mess around
And I don't really care about
If you love me
If you hate me
You can save me
Baby, baby
All my life I've been good
But now
Whoaaa...
What The Hell

Lalalalalalalalalala
Lalalalalalalalala

Sunday, May 1, 2011

Tips n Trik Belajar Asik Ala Rima

Belajar,  rasanya kegiatan ini sangat berat untuk dilakukan. Belajar adalah tugas utama kita. Banyaaak banget alasan untuk menghindari tugas ini. Capek, bosan, sibuk ekskul, sibuk organisasi, ngantuk, nggak ngerti materinya, nggak cocok gurunya, dll.

Sebenarnya yang kita butuhkan hanya motivasi dan semangat. Motivasi untuk mencapai cita-cita atau tujuan. Motivasi harus kita tanam dalam hati, kita tumbuhkan, dan kita rawat agar bisa memetik hasilnya. Jangan lupa dipupuk pakai semangat biar tumbuh subur. Hehehe,kayak tanaman ya? Tapi mau gimana lagi, belajar adalah usaha untuk mencapai cita-cita. Nih, ada sedikit tips buat bikin motivasi dan semangat belajarmu! udah sering dipraktekin kok.


  1. Meja Belajar. Meja, menjadi salah satu perangkat utama kegiatan belajar, makanya perlu diperhatikan. Nggak ada salahnya mendandani benda ini sesuka kita agar dapat memotivasi dan membuat kita betah berlama-lama duduk di depannya.
  2. Musik Ringan Pemicu Semangat. Irama dan musik adalah spesifikasi bidang kerja otak kanan, yang jika diaktifkan akan mampu menghilangkan kejenuhan kita. Buat beberapa orang, emang nggak bisa belajar tanpa musik, eits, jangan samapai keasikan dengerin musik ya! 
  3. Ganti Suasana dan Gaya. Hmm, belajar nggak harus di kelas dan di meja belajar aja kan? Coba deh, belajar di dapur,di meja makan, di taman, di tempat teman, di rumah makan, di mana aja deh! Bisa sambil tiduran, berdiri, jongkok, tengkurap. 
  4. Seluruh rumah adalah tempat belajar. Pintu kamar, televisi, rak buku, di ranjang, langit-langit kamar, hingga dinding kamar mandi bisa ditempelkan kartu rumus/hafalan bisa berfungsi sebagai tempat belajar. Tempelin aja hal-hal yang dan wajib harus dihafal. Semakin sering dibaca semakin mempel di memori otak.                               
  5. Catatan Warna-Warni. Ini nih yang paling aku suka. Bikin rangkuman dan peta konsep untuk materi-materi yang penting, seindah dan semenarik mungkin. Dengar-dengar nih, sensasi warna akan mengaktifkan otak kanan sehingga bisa memudahkan kita untuk mengingat. Yang pasti lebih enak dibaca. 
  6. Merangkum dengan Mind Mapping. Cara kerja otak ternyata tidak linear, tetapi ke segala arah. Itu sebabnya, cara mencatat dengan hanya searah, yaitu horizontal dari kiri ke kanan, justru membuat otak cepat lelah. Dengan membuatnya menyebar ke segala arah, lebih mudah untuk ditangkap otak. Variasikan dengan tips no. 5 dan tambahkan gambar lucu biar tambah mantap!
  7. Membuat Pertanyaan Sendiri. Cara yang ini memudahkan kita memahami materi. Pada dasarnya, orang lebih suka membuat pertanyaan daripada jawaban. Nggak susah untuk dicoba. Bikin aja pertanyaan sebanyak banyaknya. Hal paling penting adalah jangan malu bertanya. Kan ada tuh pribahasanya: Malu bertanya sesat di jalan.  

    Well, teman-teman, mulai sekarang tetapkan tujuanmu! Untuk apa kita sekolah tinggi-tinggi dan belajar keras? Semua pasti ada tujuannya. Dan untuk apa cita-cita setinggi langit kalo kita nggak mau usaha? Sama aja bohong donk. Ayo, mulai sekarang, semangat belajar, raih prestasi dan cita-cita!!
Good luck! ;) 
Semoga Bermanfaat!