Sunday, June 10, 2012

Hal Terburuk

Semua hal yang aku butuhkan telah jelas ada di depanku, walau kadang ada yang tidak semua hal yang ku inginkan bisa ku dapatkan. Aku bersyukur hidup berkecukupan, walau tidak selalu lebih. Aku sadar aku termasuk orang yang beruntung, lahir di tengah keluarga lengkap, tidak kaya dan tidak kekurangan.

Ada satu hal yang sulit dipahami. Kenapa banyak sekali orang-orang yang kekurangan di negeri ini? Jangankan untuk tidur di tempat bersih dan layak, untuk makan sesuap saja mereka harus mengais di tempat sampah. Padahal negeri ini masih kaya dengan sumberdaya alam. Pertumbuhan ekonomi pun tidak rendah. (baca: Pertumbuhan Ekonomi dan Kemiskinan di Indonesia)



Suatu hari, di kelas bahasa Indonesia seorang guru sedang membangkitkan semangat dan membuka pola pikir siswanya tentang masa depan. Beliau mengulas jumlah hutang negeri ini dan faktor peningkatan kemajuan ekonomi negeri ini. Aku masih tidak puas dengan pemaparan beliau. Hal terburuk yang di sampaikan beliau adalah sampai kapan pun, negeri ini hanya sanggup melunasi bunga dari hutang tersebut. Jelas saja banyak hal yang masih tidak ku mengerti.

Berbagai pertanyaan di otak muncul.  Apa saja yang bisa kami lakukan di masa depan? Bagaimana negeri ini di masa depan? Mimpi bisa  indah atau  buruk. Yang terburuk adalah ketika mimpi buruk menjadi kenyataan. Apa yang akan terjadi jika benar Indonesia tidak pernah bisa membayar hutangnya sampai kapanpun?



Banyak sekali program televisi yang menayangkan kesusahan dan penderitaan lebih dari separuh rakyat ini untuk hidup. Tapi itu tidak cukup untuk membuka mata hati orang-orang berkedudukan tinggi untuk membenahi negeri ini. Aku tau negeri ini sangat sulit diatur,para pemerintah jujur telah berusaha melakukan yang terbaik untuk rakyat Indonesia. Jangankan rakyat kecil,  para penegak hukum, dan pegawai negeri terendah sampai pejabat negara bayak yang tidak tertib alias melanggar hukum. Padahal mereka berkewajiban melayani rakyat. Wajar saja jika rakyat tidak patuh atau memberontak. Unjuk rasa di mana-mana karena menuntut hak dan melampiaskan kekecewaan mereka.



Di sisi lain, pendidikan menjadi salah satu faktor terpenting untuk memperbaiki dan memajukan negeri ini. tapi nyatanya pendidikan adalah barang mewah bagi separuh rakyat Indonesia karena tidak bisa mereka sentuh. Mungkin karena pembangunan yang belum merata di negari yang besar ini. banyak juga dari mereka yang tidak mampu masih berpikiran primitif. mereka menganggap pendidikan bukan hal yang penting karena bekerja untuk memenuhi perut mereka jauh lebih penting, sekolah hanya membuang waktuuntuk mencari uang. Menyedihkan. . . itulah fakanya.

Fakta lainnya adalah kapasitas dan kualitas perguruan tinggi yang masih kurang memadai untuk para pelajar. Memang sudah banyak di pulau jawa ptn yang terakreditasi A dan B. Sayangnya tidak di seluruh daerah di negeri ini. Bagaimana dengan Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua? Mengapa tidak terasa usaha pemerintah dalam pemerataan pendidikan, khususnya di bidang kapasitas dan mutu. Agar semua orang bisa belajar dimana pun mereka berada. Tanpa ada pembedaan nama almamater. Agar semua orang Indonesia bisa memajukan negeri ini. Karena semua bisa berkerja dan hidup layak. Agar tidak ada lagi  kemiskinan.

Semoga pemerintah terus berbenah diri. Semoga negeri ini semakin jaya.

Sumber gambar: Google