Friday, October 5, 2012

Behind the Silence

In silence can bring some inspiration to you. Just take a seat, enjoy your observation!

Wednesday, October 3, 2012

Dorm to school to remember

Boarding school tu memang beda banget sama sekolah biasa. Pengalaman yang kita dapat beragam. Mulai yang pahit, perih, manis semua jadi 1 dan nggak akan terganti. Pokoknnya banyak banget pengalaman seru dari Kampus Melati Samarinda. Ada satu kasus yang waktu itu bikin aku sebal banget sama asrama gara-gara dipilih jadi ketua asrama putri. Niiih. . .
Ada banyak hal yang perlu diteliti dan dipelajari untuk diperbaiki. Jadi ketua asrama putri? Adakah yang mau? Kalo dilihat dari sudut jabatan, bisa dibilang menggiurkan. Tapi kenyataannya, ini mirip beban moral buatku. Itu pun kalo dilihat dari sisi yang  berlawanan. Buat aku, ini bukan beban, tapi tantangan, kadang menyenangkan, bahkan kadang menyebalkan untuk mengatur banyak orang.
Pertanyaanku adalah “mengapa pada realitanya asrama dan sekolah nggak saling mendukung lagi?”.  Masing masing menjadi sebuah kubu yang sama sama kuat dan saling berebut kekuasaan. Luar biasa cacatnya tempat ini. Hampir tidak kelihatan ada kesinambungan lagi. Tidak banyak yang bisa dilakukan untuk menegakkan peraturan. Buat apa tempat ini dipertahankan tanpa ada berbaikan berarti.
Sedih ya, seolah seperti para calon penerus bangsa yang kurang diperhatikan kami ini.  
”Ada hal yang tidak bisa kita lihat dan mengerti sebelum tiba waktunya. Ada juga hal yang harus dikatakan agar orang lain bisa mengerti. Dari sinilah sebuah komunikasi yang baik harus dibangun. “
Oke, lupakan masalah tadi. Ayo kita usut kepada para pelaku utama. . . jeng jeng….
Siapa yang salah? Kalau mau di usut, tentu saja semua warga terlibat. Mulai dari pejabat, pengurus, guru, pengasuahan, bahkan siswanya. Kebanyakan para guru atau mereka yang tua menuding sistem yang salah. Memang siapa yang bikin yang sistemnya? Salahnya adalah mengapa peraturan yang dibuat tidak dikondisikan dengan kebutuhan dan perkembangan zaman. Lalu peraturan yang ada tidak di lagi didukung oleh sanksi yang tegas jika ada pelanggaran. Bagi pengasuhan khususnya, hanya menindak siswa sesuka mereka menurut kami. Kadang mereka tidak berlaku sama pada kasus kasus yang sama dengan oknum yang berbeda.
Entahlah apa lagi yang bisa diungkapkan. Banyak petugas yang hanya menjalankan kewajiban/tugas menerka berpatokan pada atasan, tidak mau disalahkan, dan bekerja tanpa hati. Ya, hanya mengejar materi semata. Tidakkah mereka berpikir untuk menjadi orang yang bermanfaat. Bisa dihitung dengan jari bahkan mereka yang bekerja dengan hati demi kebaikan. Mirisnya bangsa ini. Seperti itulah kebanyakan pekerja di Indonesia, parahnya yang seperti itulah yang sebagian memenuhi intansi kependidikan.
Eeeitss, itu sedikit aja oknum yang begitu koook. Setelah ngobrol sama pengasuh dan guru-guru yang selalu care sama siswa, ternya, masalah yang sudah nyata terjadi adalah kesadaran siswa untuk disiplin mulai merosot. Ini kan melenceng dari visi misi sekolahku, untuk mencetak pemimpin bangsa yang tangguh dan cinta tanah air. Mulai dari suka bohong, malas ikut kegiatan, dan suka ngeluh. Yang paling parah ada  aja yang suka membangkang dan nggak menghormati yang lebih tua. Yaah, kesadaran hukum dan sopan santun para remaja yang paling perlu untuk diperbaiki.
Contoh kecil, waktu dapat dispensasi dari asrama demi kegiatan organisasi atau ekstrakurikuler: banyak yang nggak mengikuti ketentuan yang diberikan. Nggak tepat waktu lah, nggak ada laporan pertanggung jawabnya lah. Dan bla bla bla. Kesannya kalo pihak asrama udah kecewa, jadi dipersulit deh kalo ada kegiatan di luar jadwal asrama dan sekolah. Semaunya jadi kesal kan???
Sebenarnya sekolah dan asrama melakukan caranya masing-masing biar siswa nggak tertular jadi oknum yang di atas tadi. Mereka menuntut kita untuk jadi orang jujur dan bertanggung jawab. Jadi maklum aja kalo agak nggak sinkron. Karena kita juga masih labil dan nggak ngerti maksud dan tujuan mereka.  Udah pada bebal sih, di samping memang ada para petugas yang memang nggak mau repot2 mendidik dan malah memberikan contoh yang nggak baik.
Aduuuh, ternyata kami bandel juga. Mohon maaf ya bapak ibu guru dan pengasuh. Semoga Allah membalas kebaikan bapak ibu semua. Semoga bapak ibu berhasil menegakkan disiplin para siswa. Hehe, masalahnya TNT kan udah mau lulus. . . Jadi kami nggak bisa ikutan lagi membantu, kami berdoa saja ya Pak, Bu. Wassalamualaikum.